Monday, January 19, 2015

Teori Belajar Kognitif



1.    Pengertian Teori Belajar Kognitif
Secara bahasa, kognitif berasal dari bahasa latin ”Cogitare” artinya berfikir (Fauziah Nasution, 2011:17). Psikologi kognitif mengakui otak menjalankan fungsi utama, yaitu berpikir. Psikologi kognitif adalah cabang psikologi yang mempelajari proses mental termasuk bagaimana orang berfikir, merasakan, mengingat dan belajar. Bidang psikologi kognitif sangat luas, tetapi umumnya dimulai dengan melihat bagaimana masukan sensori berubah menjadi keyakinan dan tindakan melalui proses kognisi.
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti diungkapkan oleh Winkel (1996:53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.
Sugihartono, dkk (2013:104), mengungkapkan pendekatan psikologi kognitif menekankan arti penting proses internal mental manusia. Tingkah laku manusia yang tampak, tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental. Semua bentuk perilaku termasuk belajar selalu didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.
Setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan di dalam dirinya. Pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi (bersinambung) secara tepat dan serasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Jadi, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan dengan sepotong-sepotong atau terpisah-pisah, melainkan melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung dan menyeluruh. Misalnya: ketika sesorang membaca suatu bahan bacaan, maka yang dibacanya bukan huruf-huruf yang terpisah-pisah melainkan kata, kalimat, atau paragraf yang kesemuanya diolah menjadi satu, mengalir, dan menyerbu secara total bersamaan (Sugihartono, 2013:105).
Dalam teori ini ada dua bidang kajian yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar, yaitu:
a.    Belajar tidak sekedar melibatkan stimulus dan respon tetapi juga melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks (Budiningsih, 2005:34).
b.    Ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Menurut psikologi kognitivistik, belajar dipandang sebagai suatu usaha untuk mengerti sesuatu dengan jalan mengaitkan pengetahuan baru ke dalam struktur berfikir yang sudah ada. Usaha itu dilakukan secara aktif oleh siswa. Keaktifan itu dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan, mempraktekkan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sehingga, pengetahuan yang dimiliki sebelumnya sangat menentukkan keberhasilan mempelajari informasi pengetahuan yang baru (Muhaimin, dkk, 2002:198).

2.    Teori Gestalt
Secara verbal, Gestalt berarti pola, susunan (konfigurasi), menyeluruh atau bentuk pemahaman atau situasi perangsangnya. Konfigurasi atau gestalt akan  kehilangan sesuatu kalau dipisahkan menjadi bagian-bagian komponennya, karena  setiap situasi atau pengalaman itu lebih dari jumlah semua bagiannya.
Max Wertheimer, Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka adalah tiga serangkai  pendiri Teori Gestalt. Ketiganya ternyata memiliki akar sejarah yang sama sampai  akhirnya mampu menyatukan gagasan sehingga menjadi sebuah gerakan yang  kemudian disebut Gestalt. Namun demikian, Max Wertheimer diakui sebagai  pemimpin yang paling terkenal, sementara Koffka dan Kohler adalah yang paling  bertanggung jawab dalam mempopulerkan gerakan Gestalt melalui tulisan-tulisannya. Karena kedekatan diantara ketiganya, sampai-sampai gagasan dan teori-teori Koffka, Kohler dan Wertheimer hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka bertiga.  Ketiganya adalah sarjana dari Universitas Berlin. Karena itu mereka menjadi terkenal  sebagai ”Kelompok  Berlin”. Max Wertheimer meneliti persepsi yang terintregasi  dalam gerak, Wolfgang Kohler yang meneliti tentang insight pada simpanse dan Kurt  Koffka yang menguraikan secara rinci mengenai hukum-hukum persepsi. Mereka tidak  hanya bekerja bersama, bahkan mereka menyatukan keyakinan dalam melakukan  perlawanan terhadap behaviorisme. Hal ini bukanlah kebetulan bahwa buku Kohler pada tahun 1929, “Gestalt Psychology”, didedikasikan untuk Wertheimer, dan buku  Koffka tahun 1935 “Principles of Gestalt Psychology”, melahirkan  persembahan untuk Wolfgang Kohler dan Max Wertheimer sebagai terima kasih untuk persahabatan dan inspirasinya (Guy R. Lefrancois, 1995:171).
a.    Max Wertheimer (1880-1943)
Dalam perjalanan liburan di awal karirnya sambil naik kereta api, Wertheimer melihat sinar berkedip-kedip (hidup dan mati) dengan jarak tertentu, sinar itu memberi kesan sebagai satu sinar yang bergerak datang dan pergi tidak putus-putus. Dari kejadian tersebut Wertheimer memperoleh gagasan untuk satu eksperimen  yang paling penting darinya. Ia mulai mengerjakan teka-teki yang menjadi titik  awal memunculkan serangkaian khayalan-khayalan gerakannya. Jika mata melihat perangsang dengan cara tertentu, akan memberikan ilusi gerakan. Wertheimer  menyebut gejala ini dengan istilah Phi Phenomenon (Guy R. Lefrancois, 1995:172).
Pada tahun 1910, Max Wertheimer memperlihatkan ketertarikannya untuk meneliti  tentang persepsi setelah ia melihat sebuah alat yang disebut "stroboscope" (benda  berbentuk kotak yang diberi alat untuk melihat ke dalam kotak tersebut) di toko  mainan anak-anak. Setelah melakukan beberapa penelitian dengan alat tersebut, dia  mengembangkan teori tentang persepsi yang sering disebut dengan teori Gestalt.
Eksperimen Max Wertheimer mengenai Scheinbewegung (gerak semu)  memberikan kesimpulan bahwa pengamatan mengandung hal yang melebihi jumlah unsur-unsurnya. Inilah gejala gestalt.
b.    Wolfgang Kohler (1887-1959)
Kohler mempelajari perilaku simpanse dan ayam. Hasil investigasinya kemudian  diterbitkan dalam sebuah bukunya,  The Mentality of Apes” (1924) yang  memuat tentang eksperimentasinya mengenai simpanse dan ayam untuk mengetes  berbagai masalah yang berkaitan dengan belajar. Kohler menggunakan sejumlah rangkaian eksperimen, yaitu:
1)   Detour Problem
Dalam Detour Problem, binatang dapat melihat makanan sebagai tujuan, tetapi tidak dapat mencapai secara langsung. Ia harus putar jalan melalui jalan  samping yang lebih jauh, tidak langsung, untuk mencapai pemecahan, sedang simpanse relatif lebih mudah. Binatang yang lebih tinggi tingkatannya, akan  lebih cepat dalam memecahkan problem. Proses menguasai medan dan mengetahui hubungan lebih cepat (B.R. Hergenhann & Mettew H. Olson, 1997:261).
2)   Percobaan dengan simpanse
Dalam eksperimentasinya, ia menyimpulkan ada kera yang cerdas dan ada  pula kera yang bodoh. Kera yang bodoh, nampak hanya belajar dengan asosiasi  dan pengulangan, sambil melakukan perilaku berulang-ulang. Sebaliknya, simpanse  yang cerdas, menurut Kohler bisa belajar sangat banyak seperti apa yang manusia lakukan, bisa mempertunjukkan sesuatu dan kadangkala memperlihatkan kemampuan proses mental yang lebih tinggi. Kohler menggunakan dua jenis studi untuk mempelajari perilaku problem solving simpanse di dalam kandang. Terhadap dua jenis studinya, yang pertama seekor  simpanse harus menemukan solusi untuk meraih seiris pisang yang diletakkan  di sisi luar kandang. Dalam studinya, ada problem ”tongkat”, dan seekor simpanse harus menggunakan tongkat panjang untuk mencapai seiris pisang, dalam banyak  kasus hal itu perlu untuk menggabungkan beberapa tongkat secara bersama-sama  sehingga bisa mencapai pisang. Yang kedua, ada problem ”kotak”, dalam hal ini simpanse harus memindahkan kotak itu dibawah pisang atau menumpuk satu kotak di atas yang lain untuk mencapai pisang. Dari eksperimen inilah Kohler menemukan catatan penting bahwa inteligensi simpanse bukan belajar dengan trial and error. Menurut Kohler simpanse seperti manusia yaitu mampu memecahkan masalah sekaligus dengan proses integrasi atau pemahaman. Pemahaman ini yang diperlihatkan oleh simpanse barulah muncul setelah  beberapa saat mencoba memahami masalahnya, dan pada saat itu pula muncul dengan tiba-tiba kejelasan, melihat hubungan-hubungannya, antara unsur yang satu dengan yang lain. Dan pemahaman yang serupa itu – yang datang dengan tiba-tiba oleh Kohler disebut ”Aha Erlebnis”. Proses pelibatan dalam serangkaian solusi ini adalah pengetahuan (B.R. Hergenhann & Mettew H. Olson, 1997:262-264).
3)   Percobaan dengan ayam
Ayam dilatih untuk mendekati warna kertas yang agak gelap dan tidak mendekati warna terang. Setelah dilatih secukupnya, bila ayam diberi pilihan untuk memilih terang dan agak gelap, ayam akan memilih gelap (karena hasil latihan). Periode berikutnya, bila ayam diberi pilihan untuk memilih yang agak  gelap dengan gelap, maka ayam akan memilih mendekati gelap (tidak memilih yang agak gelap seperti dilatihkan) (B.R. Hergenhann & Mettew H. Olson, 1997:266).
c.    Kurt Koffka (1886-1941)
Teori Koffka tentang belajar antara lain:
1)   Jejak ingatan (memory traces), adalah suatu pengalaman yang membekas di otak. Jejak-jejak ingatan ini diorganisasikan secara sistematis mengikuti prinsip-prinsip Gestalt dan akan muncul kembali kalau kita mempersepsikan sesuatu yang serupa dengan jejak-jejak ingatan tadi.
2)   Perjalanan waktu berpengaruh terhadap jejak ingatan. Perjalanan waktu itu tidak dapat melemahkan, melainkan menyebabkan terjadinya perubahan jejak, karena jejak tersebut cenderung diperhalus dan disempurnakan untuk mendapat Gestalt yang lebih baik dalam ingatan.
3)   Latihan yang terus menerus akan memperkuat jejak ingatan.
Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk mengintepretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah. Para pengikut gestalt berpendapat bahwa sensasi atau informasi harus dipandang secara menyeluruh, karena bila dipersepsi secara terpisah atau bagian demi bagian maka strukturnya tidak jelas. Penemuan struktur terhadap sensasi atau informasi diperlukan untuk dapat memahaminya dengan tepat kemudian menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Sugihartono, dkk, 2013:105-106).
Dalam belajar, menurut teori gestalt, yang terpenting adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapatkan respons atau tanggapan yang tepat. Belajar yang terpenting bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight. Menurut Sugihartono (2013:105), Insight yaitu pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Sifat khas dari belajar dengan insight (Sumadi Suryabrata, 2004:278) adalah sebagai berikut:
a.    Insight itu dipengaruhi oleh kemampuan dasar.
Kemampuan dasar itu berbeda-beda dari individu yang satu ke individu yang lain. Pada umumnya anak yang masih sangat muda sukar untuk belajar dengan insight ini.
b.    Insight itu dipengaruhi oleh pengalaman belajar masa lampau yang relevan.
Walaupun insight itu tergantung kepada pengalaman masa lampau yang relevan, namun memiliki pengalaman masa lampau tersebut belum menjamin dapatnya memecahkan masalah. Jadi misalnya anak tidak dapat mengerjakan problem aljabar, kalau dia belum tahu menggunakan simbol-simbol dalam aljabar tersebut terlebih dahulu (dari masa  lampau), tetapi anak yang telah menguasai simbol-simbol tersebut serta mengetahui cara-cara pemecahan problem dalam aljabar belum tentu dapat memecahkan problem tersebut. Di sinilah letak perbedaan antara teori Gestalt dengan teori assosiasi yang beranggapan bahwa hanya memiliki pengalaman masa lampau yang diperlukan seseorang akan dapat memecahkan problem, sebab pemecahan-pemecahan problem berarti penerapan operation-operation yang telah dipelajari.
c.    Insight tergantung kepada pengaturan secara eksperimental.
Insight itu hanya mungkin terjadi apabila situasi belajar diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang perlu dapat diambil. Apabila alat yang diperlukan untuk pemecahan problem itu dapat dibuat seakan-akan menjadi tidak mungkin, maka problem menjadi lebih sukar.
d.   Insight itu didahului oleh suatu periode mencoba-coba.
Insight bukanlah hal yang dapat jatuh dari langit dengan sendirinya, melainkan ada hal yang harus dicari. Sebelum dapat memperoleh insight orang harus sudah meninjau problemnya dari berbagai arah dan mencoba-coba memecahkan.
e.    Belajar dengan insight itu dapat diulangi.
Jika sesuatu problem yang telah dipecahkan dengan insight lain kali diberikan lagi kepada pelajar yang bersangkutan, maka dia akan dengan langsung dapat memecahkan problem itu lagi.
f.       Insight yang telah sekali didapatkan dapat dipergunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru.
Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah. Dengan demikian tingkah laku seseorang bergantung kepada insight terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam suatu situasi. Keseluruhan adalah lebih dari bagian-bagiannya dengan penekanan pada organisasi pengamatan atau stimuli di dalam lingkungan serta pada faktor-faktor yang mempengaruhi pengamatan (Soemanto, 1998). Untuk lebih memahami uraian di atas, perhatikan ilustrasi pada Gambar 1.
  
Gambar Konvigurasi Titik (Resnick & Ford, 1981:130)
Pada setiap gambar di atas terdapat bundaran kosong menunjukkan posisi yang berbeda sesuai dengn konteks (organisasi perseptual). Dari gambar tersebut dapat dijelaskan bahwa menurut pandangan gestalt seseorang yang memperhatikan konfigurasi titik (bulatan) yang terdapat pada setiap gambar (a) sampai (d) tidak hanya sebagai kumpulan titik-titik yang terpisah, tetapi titik itu terorganisir berdasarkan prinsip tertentu. Dengan demikian, orang akan memahami setiap gambar itu sebagai kumpulan titik yang secara keseluruhan membentuk; (a) layang layang (diamond), (b) segiempat, (c) segitiga, dan (d) segienam (Sugihartono, dkk, 2013:106-107).
Jadi, menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami (Sugihartono, dkk, 2013:107).

3.    Teori Konstruktivistik
Teori Konstruktivistik merupakan pengembangan lebih lanjut dari gestalt. Perbedaannya : pada gestalt – permasalahan yang dimunculkan berasal dari pancingan eksternal sedangkan pada konstruktivistik – permasalahan muncul dibangun dari pengetahuan yang direkonstruksi sendiri oleh siswa. Teori ini sangat percaya bahwa siswa mampu mencari sendiri masalah, menyusun sendiri pengetahuannya melalui kemampuan berpikir dan tantangan yang dihadapinya, menyelesaikan dan membuat konsep mengenai keseluruhan pengalaman realistik dan teori dalam suatu bangunan utuh (Sugihartono, dkk, 2013:107).
a.    John Dewey (1856-1952)
Sebagai filosof dan banyak menulis mengenai pendidikan, John Dewey dikenal sebagai Bapak Konstruktivisme. Idenya digunakan sebagai dasar metode konstruktivisme dan Discovery Learning. Ia mengemukakan bahwa belajar tergantung pada pengalaman dan minat siswa sendiri dan topik dalam kurikulum seharusnya saling terintegrasi bukan terpisah atau tidak mempunyai kaitan satu sama lain. Belajar harus bersifat aktif, langsung terlibat, berpusat pada siswa (SCL= Student-Centered Learning) dalam konteks pengalaman sosial (Sugihartono, dkk, 2013:108).
Kesadaran sosial menjadi tujuan dari semua pendidikan. Belajar membutuhkan keterlibatan siswa dan kerjasama tim dalam mengerjakan tugas. Guru bertindak sebagai fasilitator, mengambil bagian sebagai anggota kelompok dan diadakan kegiatan diskusi dan review teman. Dewey juga menyarankan penggunaan media teknologi sebagai sarana belajar. Konsep-konsep Dewey ini sudah banyak dipakai di Indonesia terutama untuk pembelajaran di perguruan tinggi (Sugihartono, dkk, 2013:108).
b.    Jean Piaget (1896-1980)
Menurut Piaget, pengamatan sangat penting dan menjadi dasar dalam menuntun proses berpikir anak, berbeda dengan perbuatan melihat yang hanya melibatkan mata, pengamatan melibatkan seluruh indra, menyimpan kesan yang lebih lama dan menimbulkan sensasi yang membekas pada siswa. Oleh karena itu didalam belajar diupayakan siswa harus mengalami sendiri dan terlibat langsung secara realistik dengan obyek yang dipelajarinya. Belajar harus bersifat aktif dan sosial (Sugihartono, dkk, 2013 : 109).
Menurut Piaget aspek perkembangan kognitif meliputi empat tahap (Muhibbin Syah, 2003:26), yaitu :
1)   Sensory-motor (sensori-motor) (0-2 tahun)
Selama perkembangan dalam periode ini berlangsung sejak anak lahir sampai usia 2 tahun, intelegensi yang dimiliki anak tersebut masih berbentuk primitif dalam arti masih didasarkan pada perilaku terbuka. Meskipun primitif dan terkesan tidak penting, intelegensi sensori-motor sesungguhnya merupakan intelegensi dasar yang amat berarti karena ia menjadi pondasi untuk tipe-tipe intelegensi tertentu yang akan dimiliki anak tersebut kelak.
Tahap sensorimotorik terbagi 6 periode, yaitu :
a)    Periode 1:  refleks (0 – 1 bulan)
b)   Periode 2:  kebiasaan (1 – 4 bulan)
c)    Periode 3:  reproduksi (4 – 8 bulan)
d)   Periode 4:  koordinasi skemata (8 – 12 bulan)
e)    Periode 5:  eksperimen (12 – 18 bulan)
f)    Periode 6:  representasi (18 – 24 bulan)
2)   Pre operational (praoperasional) (2-7 tahun)
Adanya fungsi semiotik (simbol) saat umur2-4 tahun, berkembangnya pemikiran intuitif saat umur 4-7 tahun dan telah  memiliki penguasaan sempurna mengenai objek permanen, artinya anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat dan tak didengar lagi. Jadi, pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dari pandangan pada periode sensori-motor, yakni tidak lagi bergantung pada pengamatan belaka.
3)   Concrete operational (operasional konkret) (7-11 tahun)
Dalam periode konkret operasional ini belangsung hingga usia menjelang remaja, kemudian anak mulai memperoleh tamnbahan kemampuan yang disebut system of operations (satuan langkah berfikir). Kemampuan ini berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu dalam sistem pemikirannya sendiri.
4)   Formal operational (operasional formal) (11-15 tahun)
Dalam perkembangan formal operasional, anak yang sudah menjelang atau sudah menginjak masa remaja, yakni usia 11-15 tahun, akan dapat mengatasi masalah keterbatasan pemikiran. Dalam perkembangan kognitif akhir ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan (serentak) maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yakni:
a)    kapasitas menggunakan hipotesis
b)   kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak
Dalam dua macam kemampuan kognitif yang sangat berpengaruh terhadap kualiatas skema kognitif itu tentu telah dimiliki oleh orang-orang dewasa. Oleh karenanya, seorang remaja pelajar yang telah berhasil menempuh proses perkembangan formal operasional secara kognitif dapat dianggap telah mulai dewasa.
Menurut Piaget, pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru, yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan. Proses belajar sesungguhnya terdiri dari 3 tahapan, yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi (penyeimbangan) (Sugihartono, 2013:109-110).
1)   Asimilasi
Asimilasi merupakan proses penyatuan atau pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang telah ada ke dalam benak siswa. Suatu informasi (pengetahuan) baru dikenalkan kepada seseorang dan pengetahuan itu cocok dengan skema/skemata (struktur kognitif) yang telah dimilikinya maka pengetahuan itu akan diadaptasi sehingga terbentuklah pengetahuan baru. Proses ini merefleksikan perubahan kuantitatif pada skema disebut sebagai pertumbuhan (growth). Contoh : seorang siswa yang mengetahui prinsip-prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka terjadilah proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dipahami oleh anak) dengan prinsip perkalian (informasi baru yang akan dipahami anak).
2)   Akomodasi
Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif pada situasi yang baru. Proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. Hal itu, dikarenakan informasi baru tersebut agak berbeda atau sama sekali tidak cocok dengan skemata yang telah ada. Jika informasi baru, betul-betul tidak cocok dengan skemata lama, maka akan dibentuk skemata baru yang cocok dengan informasi itu. Sebaliknya, apabila informasi baru itu hanya kurang sesuai dengan skemata yang telah ada, maka skemata yang lama itu akan direstrukturisasi sehingga cocok dengan informasi baru itu. Pada akomodasi terjadi proses belajar yag baru dan merefleksikan perubahan kualitatif pada skemata yang disebut perkembangan (development). Contohnya : siswa ditelah mengetahui prinsip perkalian dan gurunya memberikan sebuah soal perkalian.
3)   Disequilibrium dan Equilibrium
Disequilibrium dan Equilibrium yaitu penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Proses akomodasi dimulai ketika pengetahuan baru yang dikenalkan itu tidak cocok dengan struktur kognitif yang sudah ada maka akan terjadi disequilibrium, kemudian struktur kognitif tersebut direstrukturisasi kembali agar dapat sesuai dengan pengetahuan baru atau terjadi equilibrium, sehingga pengetahuan baru itu dapat diakomodasi dan selanjutnya diasimilasikan menjadi skemata baru.
Ketiga proses itu merupakan aktivitas secara mental yang hakikatnya adalah proses interkasi antara pikiran dan realita. Seseorang yang mempunyai kemampuan equilibrasi baik akan mampu menata berbagai informasi ke dalam urutan yang baik, jernih, dan logis. Sedangkan seseorang yang tidak memiliki kemampuan equilibrasi yang baik akan cenderung memiliki alur pikiran yang ruwet, tidak logis, dan berbelit-belit (Sugihartono, 2013:110-111).
c.    Jerome Bruner (1915-…)
Profesor Jerome Bruner adalah seorang psikolog berkebangsaan AS yang banyak memberikan kontribusi pada psikologi kognitf dan teori belajar kognitif pada psikologi pendidikan. Pengaruhnya pada proses mengajar sangat penting dan ia memperlopori pendekatan penemuan (discovery) dalam pengajaran matematikan meskipun ia bukan penemu konsep tersebut (Sugihartono, 2013:111).
Menurut Bruner, belajar adalah proses yang bersifat aktif terkait dengan ide Discovery Learning yaitu siswa berinteraksi dengan lingkungannya melalui eksplorasi dan manipulasi obyek, membuat pertanyaan dan menyelenggarakan eksperimen. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep dan prinsip dalam siswa adalah dengan mengkontruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Sugihartono, 2013 : 111).
Teorinya yang diadaptasi dari tahapan perkembangan kognitif Piaget mempertajam konsep pendidikan usia dini. Brunner mengemukakan bahwa proses belajar lebih ditentukan oleh cara mengatur materi pelajaran dan bukan ditentukan oleh umur seseorang seperti yang telah dikemukakan oleh Piaget. Bruner menjelaskan perkembangan dalam tiga tahap, (Sugihartono, 2013 : 112) yaitu :
1)   Enaktif (0-3 tahun)
Tahap ini merupakan tahap representasi pengetahuan dalam melakukan tindakan. Pada tahap ini anak melihat dunia melalui gambar-gambar atau visualisasi. Dengan cara ini seseorang mengetahui suatu aspek kenyataan tampa menggunakan pikiran atau kata-kata. Anak melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya memahami lingkungan. Cara ini terdiri atas penyajian kejadian-kejadian masa lampau melalui respon motorik. Misal seorang anak secara enaktif mengetahui bagaimana mengendarai sepeda
2)   Ikonik (3-8 tahun)
Tahap yang merupakan perangkuman bayangan secara visual. Pada tahap ini anak melihat dunia melalui gambar-gambar atau visualisasi. Dalam belajarnya, anak tidak memanipulasi obyek-obyek secara langsung, tetapi sudah dapat memanipulasi dengan menggunakan gambaran dari obyek.
Cara ini didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu. Misal sebuah segitiga menyatakan konsep kesegitigaan.
3)   Simbolik (>8 tahun)
Tahap ini merupakan tahap memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan tidak lagi menggunakan obyek-obyek atau gambaran obyek. Pada tahap ini anak memiliki gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika. Misal bahasa dan angka sebagai representasi simbol.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pembelajaran adalah (Sugihartono, 2013 : 112) :
1)   Guru harus bertindak sebagai fasilitator, mengecek pengetahuan yang dipunyai siswa sebelumnya, menyediakan sumber-sumber belajar dan menanyakan pertanyaan yang bersifat terbuka.
2)   Siswa membangun pemaknaannya melalui eksplorasi, manipulasi dan berpikir.
3)   Penggunaan teknologi dalam pengajaran, siswa sebaiknya melihat bagaiman teknologi tersebut bekerja daripada hanya sekedar diceritakan oleh guru.
Teori belajar ini sangat membebaskan siswa untuk belajar sendiri yang disebut bersifat discovery learning (belajar dengan cara menemukan). Di samping itu, karena teori ini banyak menuntut pengulangan-pengulangan sehingga desain yang berulang-ulang tersebut disebut sebagai kurikulum spiral Bruner. Kurikulum ini menuntut guru untuk memberi materi perkulihan setahap demi setahap dari yang sederhana sampai yang kompleks di mana suatu materi yang diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi dalam suatu materi baru yang lebih kompleks. Demikian seterusnya berulang-ulang sehingga tak terasa siswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh (Sugihartono, 2013 : 112-113).
Dengan cara ini siswa akan memperoleh pengetahuan yang benar-benar bermakna. Pengetahuan yang diperoleh dengan discovery learning mempunyai beberapa kebaikan, yaitu :
1)   Pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat atau lebih mudah diingat, bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara-cara lain.
2)   Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada prinsip belajar lainnya. Dengan kata lain, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dijadikan milik kognitif seseorang lebih mudah diterapkan pada situasi baru.
3)   Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih ketrampilan-ketrampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
d.   Lev Vygotsky (1896-1934)
Vygotsky adalah seorang filosof Rusia yang idenya mempunyai peran penting dalam memahami budaya, interaksi sosial, dan peranan bahasa dalam perkembangan kognitif. Ia dipengaruhi oleh Pavlov dan beranggapan bahwa perkembangan secara langsung dipengaruhi oleh perkembangan sosial. Istilah yang sering digunakan adalah : dampak sosial, scaffolding, dan zone of proximal development (ZPD) (Sugihartono, 2013 : 113).
Berbeda dengan konstruktivisme kognitif Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vygotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang. Inti konstruktivis Vygotsky adalah interaksi antar aspek internal dan eksternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar (Sugihartono, 2013 : 113).
Interaksi sosial dipelajari anak dari orang yang kemampuan intelektulnya di atas kemampuan si anak seperti anak lain di atas umurnya atau orang dewasa di sekitarnya. Guru berperan sebagai pengarah dan pemandu kegiatan siswa dan mendorong siswa yang mampu untuk bekerja mandiri (Sugihartono, 2013 : 113).
Pembelajaran berdasarkan scaffolding yaitu memberikan ketrampilan yang penting untuk pemecahan masalah secara mandiri seperti berdiskusi dengan siswa, praktek langsung dan memberikan penguatan. Guru yang memberikan bantuan penuh secara bertahap justru akan mengurangi pemahaman siswa. Misalnya mengajari anak mengendarai sepeda adalah bukan dengan memberi secara teoritis tetapi langsung mempraktekkan menaiki sepeda (Sugihartono, 2013 : 113).
Zone of Proximal Development (ZPD) adalah wilayah di mana anak mampu untuk belajar dengan bantuan orang yang kompeten. Area ini berada antara kemampuan anak belajar sendiri dan apa yang masih mampu diupayakannya dengan bantuan orang lain. Penilaian belajar dilakukan dengan menggunakan checklist, review teman atau pertanyaan. Penerapan teknologi untuk belajar adalah dengan pemakaian visualisasi, contoh grafis, pengalaman dunia nyata yang terkait dengan kebutuhan siswa (Sugihartono, 2013 : 113-114).


DAFTAR PUSTAKA

Fauziah Nasution. 2011.  Psikologi Umum. IAIN SU : Fakultas Tarbiyah.
Sugihartono, dkk. 2013. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : UNY Press.
Syaiful Bahri Djamarah. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Muhaimin, dkk. 2002. Paradigma Pendidikan Islam; Upaya Mengefektifkan PAI di Sekolah. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.
Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Lefrancois, Guy R. 1995. Theories of Human Learning. Kros’s Report :Book/Cole Publising Company.
Hergenhann, B.R. & Olson , Mettew H. 1997. An Introduction to The Theories of Learning. New Jersey : Prantice hall Inc.
Suryabrata, Sumadi. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
 

No comments:

Post a Comment